Kenali ciri kusta di kulit yang sering di abaikan masyarakat karena gejalanya tidak menimbulkan rasa sakit. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal penyakit ini agar deteksi dan pengobatan bisa di lakukan sedini mungkin.
Peringatan ini di sampaikan menyusul sorotan publik terhadap kasus kusta yang melibatkan warga negara Indonesia di Rumania beberapa waktu lalu. Kemenkes menegaskan bahwa kusta masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia.
Kusta Masih Ditemukan di Indonesia
Kusta masih di temukan di Indonesia dengan jumlah kasus yang cukup signifikan setiap tahunnya. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa dalam satu tahun terakhir Indonesia mencatat lebih dari 10 ribu kasus baru.
“Hingga 12 November 2025, tercatat 10.450 kasus baru kusta di Indonesia,” ungkap Aji kepada media pada Kamis, 18 Desember 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa kusta bukanlah penyakit masa lalu yang sudah punah. Masyarakat perlu tetap waspada dan mengenali gejala-gejalanya agar bisa segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Provinsi dengan kasus terbanyak meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu, tiga provinsi dengan proporsi kasus kusta baru tertinggi pada tahun 2023 adalah Sulawesi Utara, Papua, dan Maluku.
Gejala yang Sering Tidak Disadari
Gejala yang sering tidak di sadari menjadi tantangan utama dalam penanganan kusta di Indonesia. Banyak penderita baru datang ke fasilitas kesehatan setelah kondisinya sudah parah atau mengalami kecacatan.
“Gejala kusta sering tidak menimbulkan rasa nyeri. Padahal, deteksi dan pengobatan dini sangat menentukan keberhasilan penyembuhan,” kata Aji menekankan.
Kusta memiliki karakteristik unik di mana gejalanya berkembang secara perlahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Bakteri penyebab kusta memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh.
Tanda dan gejala kusta bisa muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita. Bahkan pada beberapa kasus, gejala baru terlihat setelah bakteri berkembang biak selama 20 hingga 30 tahun.
Bercak Kulit Mati Rasa
Bercak kulit mati rasa menjadi salah satu ciri paling khas dari penyakit kusta. Kemenkes mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika menemukan bercak kulit dengan karakteristik tersebut.
Bercak pada kusta bisa berupa perubahan warna kulit menjadi putih, kemerahan, atau kecoklatan. Berbeda dengan bercak penyakit kulit lainnya, bercak kusta di sertai dengan hilangnya sensasi pada area tersebut.
Penderita tidak akan merasakan sakit, gatal, atau sensasi lainnya ketika bercak tersebut di sentuh. Bagian kulit yang terkena juga tidak dapat membedakan antara panas dan dingin.
Ciri lain yang membedakan bercak kusta dengan panu adalah area bercak tidak di tumbuhi bulu dan tidak mengeluarkan keringat. Bercak kusta juga tidak membaik dengan obat jamur atau panu biasa.
Kulit Mengkilap atau Kering Bersisik
Kulit mengkilap atau kering bersisik bisa menjadi tanda awal kusta yang perlu di waspadai. Perubahan tekstur kulit ini sering di abaikan karena di anggap hanya masalah kulit biasa.
Selain perubahan tekstur, bisa juga muncul kelainan kulit berupa peninggian, penebalan, atau benjolan kulit. Tanda-tanda ini umumnya di sertai dengan penurunan atau hilangnya sensasi pada area tersebut.
Luka kulit yang tidak kunjung sembuh selama beberapa minggu hingga hitungan bulan juga perlu di curigai sebagai gejala kusta. Luka tersebut biasanya berbentuk datar dan berwarna lebih pucat dari kulit normal di sekitarnya.
Pada jenis kusta tuberkuloid, penderita bisa mengalami luka ringan karena respons imun yang baik. Namun pada jenis kusta lepromatosa, luka bisa menyebar luas dan mempengaruhi saraf.
Lepuh atau Luka Tidak Nyeri
Lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan dan kaki merupakan gejala lain yang perlu di waspadai. Kondisi ini terjadi karena kerusakan saraf yang menyebabkan hilangnya kemampuan merasakan rasa sakit.
Penderita mungkin tidak menyadari ketika mengalami luka atau cedera pada bagian tubuh yang terkena kusta. Akibatnya, luka tersebut bisa semakin parah karena tidak mendapat penanganan yang tepat.
Luka yang tidak sembuh dalam jangka waktu lama, terutama pada bagian tubuh yang sering di gunakan seperti tangan dan kaki, perlu mendapat perhatian khusus. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan saraf akibat kusta.
Kemampuan merasakan nyeri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghindari cedera. Ketika kemampuan ini hilang, risiko mengalami luka serius meningkat secara signifikan.
Kesemutan pada Anggota Gerak
Kesemutan pada anggota gerak bisa menjadi gejala awal kusta yang perlu di perhatikan. Sensasi ini terjadi karena bakteri kusta mulai menyerang saraf tepi pada tubuh penderita.
Kesemutan atau rasa baal biasanya muncul pada tangan, kaki, atau bagian wajah. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus tanpa sebab yang jelas, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.
Penebalan saraf tepi juga bisa terjadi sebagai akibat dari infeksi kusta. Kondisi ini biasanya bisa di ketahui melalui pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan di sekitar siku atau lutut.
Gangguan saraf yang tidak di tangani bisa berkembang menjadi kelemahan otot. Penderita mungkin mengalami kesulitan mencengkram benda atau mengalami kondisi jatuh kaki.
Nyeri pada Anggota Gerak
Nyeri pada anggota gerak juga bisa menyertai gejala kusta lainnya. Rasa nyeri ini biasanya terkait dengan kerusakan saraf yang sedang berlangsung dalam tubuh penderita.
Beberapa penderita merasakan nyeri seperti tertusuk-tusuk pada tangan, kaki, atau bagian wajah. Nyeri ini berbeda dengan nyeri otot biasa karena terkait dengan gangguan fungsi saraf.
Kondisi ini perlu segera di tangani karena kerusakan saraf yang berkelanjutan bisa menyebabkan kecacatan permanen. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius.
Pada kasus yang sudah parah, gangguan saraf bisa menyebabkan kelumpuhan dan masalah fungsi saraf lainnya. Oleh karena itu, segera periksakan diri jika mengalami gejala-gejala tersebut.
Mengapa Gejala Kusta Sering Diabaikan
Mengapa gejala kusta sering di abaikan oleh masyarakat perlu di pahami agar kesadaran bisa meningkat. Ada beberapa alasan yang membuat penderita tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Pertama, gejala kusta tidak menimbulkan rasa sakit atau gatal sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak orang menganggap bercak kulit tersebut hanya masalah kosmetik yang tidak berbahaya.
Kedua, gejala berkembang sangat perlahan sehingga perubahan tidak terasa signifikan. Penderita sering tidak menyadari bahwa kondisinya semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Ketiga, bercak kusta sering di salahartikan sebagai panu atau penyakit kulit lainnya. Banyak penderita mencoba mengobati sendiri dengan obat jamur sebelum akhirnya menyadari kondisi sebenarnya.
Perbedaan Bercak Kusta dan Panu
Perbedaan bercak kusta dan panu perlu di pahami agar masyarakat bisa mengenali kondisi yang di alaminya. Meski sekilas tampak mirip, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.
Bercak panu biasanya terasa gatal, terutama saat berkeringat. Sementara bercak kusta tidak gatal sama sekali dan justru mengalami mati rasa atau kehilangan sensasi.
Bercak panu masih bisa merasakan sentuhan, tekanan, atau perbedaan suhu. Sedangkan bercak kusta tidak dapat merasakan sensasi apapun termasuk rasa sakit saat di tusuk benda tajam.
Panu dapat membaik dengan pengobatan antijamur dalam beberapa minggu. Jika bercak tidak membaik setelah pengobatan jamur biasa, kemungkinan besar bukan panu dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Jenis-Jenis Kusta Berdasarkan Klasifikasi WHO
Jenis-jenis kusta berdasarkan klasifikasi WHO terbagi menjadi dua tipe utama yang menentukan durasi dan jenis pengobatan. Pemahaman tentang klasifikasi ini penting untuk penanganan yang tepat.
Kusta multibasiler lebih mudah menular di bandingkan kusta pausibasiler. Namun dengan pengobatan yang tepat, kedua tipe kusta dapat di sembuhkan secara tuntas.
Tahapan Gejala Kusta
Tahapan gejala kusta berkembang secara bertahap dari ringan hingga berat jika tidak mendapat penanganan. Mengenali tahapan ini membantu deteksi dini sebelum komplikasi terjadi.
Pada tahap awal, gejala hanya berupa kelainan warna kulit. Bisa berupa hipopigmentasi (warna kulit lebih terang) atau hiperpigmentasi (warna kulit lebih gelap) yang di sertai mati rasa.
Pada tahap selanjutnya, bercak semakin meluas dan bertambah banyak. Penebalan saraf tepi mulai terjadi dan penderita mengalami kesemutan atau mati rasa yang semakin jelas.
Pada tahap lanjut, kerusakan saraf menyebabkan kelemahan otot dan deformitas. Penderita bisa mengalami cacat wajah, kehilangan alis, atau kerusakan mata jika tidak segera di obati.
Kusta Bukan Penyakit Kutukan
Kusta bukan penyakit kutukan atau keturunan seperti mitos yang beredar di masyarakat. Penyakit ini merupakan infeksi bakteri yang dapat di sembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Stigma negatif terhadap kusta menjadi salah satu penghambat utama dalam upaya eliminasi penyakit ini. Banyak penderita enggan berobat karena takut di kucilkan oleh masyarakat.
Pandangan diskriminatif terhadap penderita kusta berdampak negatif secara psikologis. Beberapa penderita mengalami frustrasi bahkan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup karena stigma tersebut.
Masyarakat perlu memahami bahwa setelah menjalani pengobatan, penderita kusta tidak lagi menularkan penyakitnya. Mereka dapat hidup normal dan produktif di tengah masyarakat.
Cara Penularan Kusta
Cara penularan kusta terjadi melalui kontak erat dan dalam waktu lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan. Bakteri menyebar melalui percikan cairan dari hidung atau mulut saat berbicara, bersin, atau batuk.
Penting untuk di ketahui bahwa interaksi biasa seperti bersalaman, berbagi alat makan, atau duduk bersama tidak menyebabkan penularan. Kusta membutuhkan kontak yang intens dan berulang untuk bisa menular.
Tidak semua orang yang terpapar bakteri kusta akan tertular. Sekitar 95 persen orang dewasa memiliki sistem kekebalan tubuh yang mampu melawan bakteri penyebab kusta.
Dari 100 orang yang terpapar, hanya sekitar 5 orang yang berpotensi tertular. Mayoritas orang memiliki imunitas alami terhadap penyakit ini.
Pengobatan Kusta Gratis di Puskesmas
Pengobatan kusta gratis di Puskesmas di sediakan oleh pemerintah Indonesia. Kemenkes memastikan obat kusta tersedia secara cuma-cuma bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan.
Pengobatan menggunakan metode Multi Drug Therapy (MDT) yang merupakan kombinasi beberapa jenis antibiotik. WHO telah merekomendasikan metode ini sejak tahun 1982 dan terbukti efektif menyembuhkan kusta.
Durasi pengobatan berbeda tergantung jenis kusta. Kusta pausibasiler memerlukan pengobatan selama 6 bulan, sedangkan kusta multibasiler memerlukan pengobatan selama 12 bulan.
Obat yang di berikan biasanya terdiri dari kombinasi rifampicin, dapsone, dan clofazimine. Pengobatan harus di minum secara teratur dan tuntas sesuai durasi yang di tentukan.
Pentingnya Deteksi Dini
Pentingnya deteksi dini tidak bisa di abaikan dalam penanganan kusta. Semakin cepat penyakit ini terdeteksi dan di obati, semakin besar peluang kesembuhan tanpa kecacatan.
Jika kusta segera terdeteksi dan pengobatan di lakukan dengan tepat, komplikasi seperti kerusakan saraf dan kecacatan dapat di cegah. Penderita bisa sembuh total tanpa mengalami gangguan fungsi tubuh.
Sebaliknya, keterlambatan diagnosis dan pengobatan bisa menyebabkan kerusakan permanen. Cacat fisik yang terjadi akibat kusta tidak dapat di pulihkan meski penyakitnya sudah sembuh.
Aji Muhawarman menekankan bahwa rendahnya kesadaran untuk segera memeriksakan diri menjadi tantangan utama penanganan kusta. Banyak pasien baru datang setelah mengalami gangguan saraf atau kecacatan.
Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan
Kapan harus ke fasilitas kesehatan perlu di pahami oleh masyarakat agar deteksi dini bisa tercapai. Ada beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang segera memeriksakan diri.
Segera konsultasikan ke Puskesmas atau dokter kulit jika menemukan bercak kulit yang tidak terasa sakit atau gatal tetapi mati rasa saat di sentuh. Kondisi ini merupakan tanda khas kusta.
Periksakan juga jika bercak kulit tidak membaik dengan pengobatan jamur atau panu biasa dalam beberapa minggu. Bercak yang justru semakin meluas atau bertambah banyak juga perlu di curigai.
Jika mengalami kesemutan atau rasa baal yang tidak jelas penyebabnya pada tangan atau kaki, segera periksakan diri. Terutama jika ada riwayat kontak erat dengan penderita kusta yang belum di obati.
Peran Masyarakat dalam Eliminasi Kusta
Peran masyarakat dalam eliminasi kusta sangat penting untuk memutus rantai penularan. Setiap orang dapat berkontribusi dengan berbagai cara yang sederhana namun bermakna.
Pertama, kenali gejala kusta lebih dini dan segera periksakan diri jika ada tanda mencurigakan. Jangan menunda karena takut stigma atau malu.
Kedua, dukung anggota keluarga atau tetangga yang terdiagnosis kusta untuk menjalani pengobatan hingga tuntas. Dukungan sosial sangat penting untuk kesembuhan mereka.
Ketiga, sebarkan informasi yang benar tentang kusta untuk menghilangkan stigma di masyarakat. Kusta adalah penyakit yang dapat di sembuhkan dan penderitanya layak mendapat perlakuan yang sama seperti orang lain.
